Senin, 04 November 2013

Mencegah Perang Saudara dengan Rugby

HARAPAN dan ekspektasi besar, sudah barang tentu dirasakan setiap olahragawan di berbagai ajang – terlebih ketika melakoni turnamen sekelas Piala Dunia. Namun boleh-lah bertaruh jika sejak era kuda gigit besi hingga sekarang, ada atlet yang mengemban bobot ekspektasi melebihi atau minimal menyamai yang dipanggul Francois Pienaar.
 
Siapa Pienaar? Apa pula jasanya hingga tak seorang atlet pun yang bisa menandingi beban ekspektasi terbesar dari para olahragawan lainnya? Bagi yang jarang mengikuti olahraga rugby, tentu Anda takkan kenal sosok "Afrikaaner" pirang yang satu ini.
 
Afrikaaner merupakan sebutan bagi orang kulit putih di Afrika Selatan sejak rezim Apartheid. Hubungannya dengan jasa seorang Pienaar, berawal dari sebuah pertemuan dan percakapan "serius tapi santai" dengan Presiden pertama Afrika Selatan berkulit putih di istana Kepresidenan.
 
Singkatnya, Pienaar sedianya merupakan kapten tim rugby Springboks Afrika Selatan. Rugby pada saat itu, masih permainan yang didominasi orang kulit putih. Terhitung hanya sesosok pemain kulit hitam di antara 15 pemainnya – Chester Williams.
 
Afrika Selatan sendiri, baru terlepas dari Apartheid awal 90-an lalu dan Nelson Rolihlahla Mandela, tahanan politik yang lebih dari dua dekade dikerangkeng jeruji besi, dalam waktu singkat sudah berpredikat Presiden setelah menang Pemilu 1994.
 
Namun keraguan publik dalam negeri, terutama di berbagai komunitas kulit putih, Mandela dianggap tak kompeten. Media-media pro-Apartheid pun acap mengejeknya,: "Dia mungkin telah memenangkan Pemilu, tapi bisakah dia menjalankan pemerintahan sebuah negara???"
 
Apartheid sudah musnah dari "rainbow nation – negeri pelangi", namun kebebasan berkehidupan di segala lini bagi masyarakat pribumi, khususnya yang berkulit hitam, menghadirkan ancaman baru, yakni perang saudara lantaran hasrat balas dendam terhadap perlakuan keji nan tak manusiawi dari orang-orang kulit putih di masa Apartheid.
 
Mandela mengerti bahwa, tak cukup hanya dengan pidato-pidatonya guna menenangkan rakyatnya, khususnya para pendukung kulit hitamnya, untuk tak mengundang aksi-aksi provokasi yang cenderung ingin balas dendam, tapi Mandela paham bahwa dia butuh suatu hegemoni yang menyatukan negaranya dengan tujuan akhir, berbahagia sebagai satu bangsa yang hidup berdampingan dengan harmonis.
 
Dari buah pikiran itulah Mandela mengundang Pienaar ke istana Kepresidenan. Pienaar menerima undangan tersebut via telepon dan masih mengingat hingga kini, betapa gugupnya ketika akan memenuhi undangan tersebut.
 
"Saya tak bisa katakan bagaimana hebatnya rasa gugup yang saya rasakan pada saat itu. Saya tak tahu apa yang akan dia katakan pada saya. Saya pun berpikir, 'mengapa dia ingin bertemu saya? Apa yang harus saya katakan?" kenang Pienaar.
 
Diawali dengan percakapan ringan dan 'ngopi' bareng, Mandela pun mengarahkan pembicaraan ke jalur yang lebih serius,: "Francois, saya ingin Anda memenangkan Piala Dunia (rugby 1995)," pinta sang Presiden yang gemar mengenakan batik khas Indonesia itu.
 
Ya, Piala Dunia rugby 1995 merupakan perhelatan besar pertama Afrika Selatan. Namun masalahnya, Springboks sama sekali tak diunggulkan dan maksimal, hanya bisa mencapai perempatfinal. Di laga ujicoba kontra Inggris saja, Springboks harus menelan malu di hadapan publik sendiri.
 
Dukungan Mandela terhadap Springboks tak hanya sampai di situ. Saat Springboks ingin dilikuidasi oleh beberapa anggota kongres nasional olahraga, lantaran dianggap masih mengusung simbol Apartheid, Mandela datang tergesa-gesa ke pertemuan tersebut untuk mengurungkan niat para rekan seperjuangannya dulu tersebut.
 
Lebih jauh, Mandela juga sempat mendatangi kamp latihan Springboks jelang Piala Dunia yang sedianya, hanya tersisa persiapan mepet. Dalam pertemuannya dengan tim, Mandela dihadiahi topi dan kaus Springboks yang khas dengan warna kebesarannya, hijau-emas dengan nomor punggung enam, milik Pienaar.
 
Kemudian, Mandela meminta manajer dan segenap pelatih tim, menjalani beberapa sesi coaching clinic ke daerah-daerah pedalaman yang selama ini, jarang mendengar yang namanya permainan rugby.
 
Dalam sebuah pidato di depan khalayak umum pun, Mandela tak ketinggalan "mempromosikan" Springboks dan meminta dukungan segenap rakyatnya, untuk tetap berada di belakang tim Afrika Selatan serta tak menganggap Springboks simbol Apartheid lagi.
 
"Ini (Mandela menunjuk topi Springboks-nya), merupakan kehormatan anak-anak kita. Saya meminta Anda berdiri bersama mereka karena mereka sesama kita," tutur Mandela pada suatu kesempatan yang tercatat The Sowetan Daily.
 
Meski begitu, saat Piala Dunia akhirnya dibuka, Mandela hanya bisa dua kali menyaksikan langsung aksi Springboks – di partai pertama Grup dan final! Ya, final. Memang bukan Pienaar semata yang membawa tim mencapai final, namun spirit yang ditanamkan terus menerus ketika rekan-rekannya sudah kehabisan "baterai". Pienaar yang terinspirasi dari beberapa bait puisi yang dihadiahi Mandela, bak memberi kekuatan anyar bagi Springboks.
 
Singkat cerita, Springboks tanpa diduga mampu tampil ke final, mengalahkan sejumlah tim unggulan macam Australia dan Prancis. Pienaar pun punya ide lain, sehari sebelum final dimulai, yakni mengajak rekan-rekan setim serta staf pelatih, melawat ke Robben Island, tempat di mana Mandela pernah dibekap jeruji besi selama 27 tahun.
 
"Saya hanya bisa menangis. Saya berpikir, bagaimana bisa kita melakukan hal ini (memenjarakan) kepada orang itu (Mandela) selama 27 tahun?" kenang Pienaar lagi.
 
Final pun tiba untuk dihampar di Ellis Park. Mandela sudah dari jauh-jauh hari meliburkan segala agenda pemerintahan baik dalam negeri maupun pertemuan dengan berbagai pihak luar negeri, hanya untuk menyaksikan laga final, walau lawan di partai terakhir ini terbilang paling berat.
 
"The All Blacks" Selandia Baru dengan jagoan mereka, Jonah Lomu, sempat bikin gentar ketika memamerkan tarian perang suku Maori sebelum laga. Tapi segala konsentrasi Springboks dan terutama Pienaar, hanyalah raihan trofi Piala Dunia, bukan rasa takut terhadap musuh terbesarnya itu.
 
"Sampai peluit dibunyikan melawan All Blacks di final, pikiran saya hanya mengutamakan kemenangan Piala Dunia," beber sang kapten.
 
Bak cerita dongeng, Springboks tertinggal lebih dulu dan singkatnya, mereka sanggup bangkit hingga menang 15-12. Tak hanya puluhan ribu penonton yang hadir di Ellis Stadium yang bersorak bahagia 'sejadi-jadinya' dan saling berpelukan, tapi juga mereka di berbagai pelosok Afrika Selatan yang hanya bisa mendegarnya lewat radio.
 
Segenap negeri tumpah-ruah dengan euforia, semua orang bak melupakan perselisihan yang ada dan saling memberi selamat – tak peduli warna kulit. Pienaar pun menerima trofi bergengsi itu dari tangan sang Presiden sendiri yang datang, mengenakan kaus hijau-emas khas Springboks.
 
"Saya melihat Presiden berjalan membawa trofi William Webb Ellis dengan mengenakan kaus Springboks bernomor enam milik saya. Presiden lain mungkin akan mengenakan jas sutra terbaik mereka. Saat Mandela memilih mengenakan kaus itu, pastinya menandai perubahan, untuk bersatu sebagai satu bangsa. Sampai kini, kaus hijau-emas yang pernah dikenal sebagai simbol Apartheid itu, sekarang dikenal sebagai supremasi Afrika Selatan," imbuh Pienaar.
 
"Saya mungkin hanya seorang kapten ketiga yang punya pengalaman memenangkan Piala Dunia sampai saat ini, tapi saya rasa tak ada orang yang yang punya pengalaman serupa dengan saya. Emosi mengalahkan All Blacks Selandia baru pada final di rumah sendiri setelah revolusi politik, sudah seperti dongeng," sambungnya.
 
"Saya tahu mungkin ini klise, tapi itulah yang saya rasakan. Sebuah dongeng. Saat kecil, saya tak pernah bermimpi bermain untuk Springboks. Lalu menjadi kapten tim ini sudah seperti hal terbaik dalam hidup, lalu sambil disaksikan Presiden pertama kami yang berkulit hitam, sungguh di luar imajinasi saya," tuntas Pienaar.
 
Kisah fenomenal ini pun lantas baru diabadikan 2008 silam melalui sebuah buku yang ditulis John Carlin, bertajuk, "Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game that Made a Nation". Setahun kemudian, berdasarkan buku Carlin tersebut, momen terhebat Afrika Selatan itu difilmkan dengan judul "Invictus" yang diperankan Morgan Freeman dan Matt Damon.
(raw)
source : http://sport.okezone.com/read/2013/11/04/433/891533/mencegah-perang-saudara-dengan-rugby