Senin, 30 September 2013

Apa Kabar Sektor Putri?

JAKARTA - Prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia memang sudah tidak diragukan lagi. Akan tetapi, mayoritas kemenangan tersebut didapatkan hanya lewat sektor tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran. Apa kabarnya sektor putri?

Ya, sektor tunggal dan ganda putri Indoneisa seolah menjadi kendala di setiap turnamennya. Sejauh ini jagoan-jagoan Indonesia di tunggal putri, tak ada satu pun yang masuk dalam 10 besar peringkat dunia versi Badminton World Federation (BWF).

Lindaweni Fanetri (12), Aprilla Yuswandari (24), Belaetrix Manuputi (29), Adrianti Firdasari (32), dan Febby Angguni (33). Di sektor ganda tak jauh berbeda, walau masih ada wakilnya di 10 besar dengan menempati posisi ketujuh, Pia Zebadiah Bernadeth/Rizki Amelia.

Andalan baru kita, Nitya Krishinda/Greysia Polli berada di posisi ke-35. Dengan melihat hasil rangking saja, kita bisa melihat bahwa pebulutangkis Indonesia untuk sektor putri masih akan sulit bersaing dengan negara-negara lain, khususnya China.

Kasubid Pelatnas PP PBSI Ricky Soebagdja sempat mengutarakan kekecewaannya saat tunggal putri Indonesia bertumbangan di babak pertama Chinese Taipei Open Grand Prix Gold 2013. Mereka adalah Linda Wenifanetri, Adriyanti Firdasari, dan Bellaetrix Manuputty.

Ricky menyatakan akan melakukan evaluasi terkait buruknya hasil tersebut. Bahkan, ia tak segan untuk ikut mengevaluasi kinerja sang pelatih yang seharusnya tim putri Indonesia bisa meraih gelar juara.

"Kami kecewa dengan kekalahan wakil-wakil tunggal putri di babak pertama, apalagi ini turnamen kelas grand prix gold. Seharusnya, tunggal putri hasilnya bisa juara. Setelah ini akan ada evaluasi khusus untuk tunggal putri, termasuk pelatihnya. Kenapa hasilnya bisa seperti ini?" kata Ricky di situs PBSI beberapa waktu lalu.

Terakhir ada Indonesia Grand Prix 2013 yang berlangsung di Yogyakarta, pekan kemarin. Final ganda putri dan tunggal putri sudah dikunci oleh China yang dipastikan meraih dua gelar juara di sektor tersebut.

Setelah era Mia Audina dan Susi Susanti, Indonesia memang seolah sulit mendapatkan srikandi-srikandi di bulutangkis meski yang saat ini masih memiliki potensial baik. Susi Susanti pernah mengatakan bahwa Indoneisa memang masih kekurangan bibit pemain putri .

"Tunggal putri belum maksimal, penampilan mereka kurang bagus. Kita butuh kerja keras lagi. Bibit tunggal putri kita minim, ini jadi PR (pekerjaan rumah) kita semua," kata Susi saat itu.

Untuk menjadi pemain tunggal putri yang baik, jawara Olimpiade 1992 di Barcelona itu menilai pemain harus harus memiliki kemampuan teknik, fisik, dan pola pikir baik karena saat ini persaingan tunggal putri semakin ketat.

"Pemain-pemain kita kurang berani untuk bermain rally. Paling utama mereka harus tahu kelebihan dan kelemahan lawan, dan memiliki keinginan untuk menang," katanya.

"Kalau mau juara siapa pun harus dikalahkan karena masa prestasi seorang atlet terbatas, jangan buang waktu dan usia, contohnya Ratchanok (pemain muda Thailand yang menjadi Juara Dunia). Kita jangan takut sama China," sambungnya.

Istri dari Alan Budikusuma ini juga memberikan masukan kepada PBSI, menurutnya pemain harus diturunkan dalam turnamen yang sesuai dengan kelasnya. Tak hanya itu, sebelum berangkat pemain lebih baik diseleksi lebih dulu dan bukan dijatah, karena itu hanya akan menghamburkan biaya. (min)


source : http://sport.okezone.com/read/2013/09/30/263/874070/apa-kabar-sektor-putri